Sekitar 300β350 tahun yang lalu (13β15 generasi) keturunan Sibagot Nipohan mulai turun dari Kecamatan Balige untuk martoba (menangkap ikan) dan di sela-sela waktu martoba digunakan untuk membuka lahan pertanian. Pada awalnya keturunan Sibagot Nipohan tidak menetap di Meat, namun karena perjalanan keluar masuk Meat sangat melelahkan karena naik turun gunung sehingga keturunan Sibagot Nipohan mulai menetap di Meat.
Sibagot Nipohan memiliki empat anak yakni: Tuan Sihubil (Tampubolon), Tuan Somanimbil (Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol), Tuan Dibangama (Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar), dan Sonak Malela (Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede).
Keturunan Sibagot Nipohan merupakan penduduk asli desa Meat, namun seiring perkembangan jaman, kini sudah ada marga-marga lain yang tinggal di desa Meat dan mereka rata-rata sonduk hela (menikah dengan keturunan Sibagot Nipohan). Dalam tatanan adat di desa Meat, Horja Sibagot Nipohan yang berhak menetapkan keputusan melalui Tonggo Raja (Rapat tetua adat yang harus terwakili dari ke-4 keturunan Sibagot Nipohan).
Pada awalnya desa Meat terdiri dari 3 Kampung yang dipimpin oleh Hampung/Kepala Kampung. Kepala Kampung yang terakhir adalah: Hampung Meat 1 (Conrad Siahaan, Huntal Siahaan, Maja Siahaan), Hampung Meat 2 (Marga Sianipar, Simeon Tampubolon, Oberlin Tampubolon), dan Hampung Meat 3 (Josia Siahaan, Dolok Siahaan, Marincan Siahaan).
Pada tahun 1988 ketiga kampung tersebut dibentuk menjadi 1 desa yaitu desa Meat yang terdiri dari 3 dusun, dipimpin oleh carteker/pejabat kepala desa Marincan Siahaan hingga tahun 1990. Pada tahun 1990 dilakukan pemilihan kepala desa untuk pertama kalinya.